Gerimis malam bersenyawa udara lembab dingin dan sunyi, sesosok gadis murung dengan setitik-titik air mata terjatuh dari kedua bola mata barkaca, merenung tanpa pikiran hampa kosong pandangan, hati yang hancur beringas tertusuk jarum perihnya kehidupan, sedang menanti sahabatnya yang konon belum balik dari membeli bahan komsumsi, dengan mata sinis berpaduan tatapan kosong, si mata berkaca hanya bisa menunggu sahabatnya itu, rembulan tiada malam ini ibarat melambangkan isi hati si mata berkaca itu. Tiktik air dari awan, menggambarka aliran cair yang keluar dari si mata berkaca itu. Hancur perih derita malam serta hari ini, semua berjalan tanpa rencana tanpa keingian juga pula tanpa ikhlas.

Cahaya lampu yang semakin terang sinarnya, perlahan mendekat ke arah si mata berkaca, perasaan senang kini mulai sediki ada walaupun kosong itu masih sangat nyata.

Sesosok pria turun dari benda beroda itu, tanpa membuang-buang waktu pria itu mendekat ke arash si mata beraca, lalu berkata maaf menunggu lama. Sambil menangis si mata berkaca memeluk dengan erat pria tadi, si pria membiarkan si mata berkaca memeluknya sembari mencoba mengobati perih isi hati si mata berkaca. Pelukan si mata berkaca sangat terasa mengambarkan isi hatinya yang hancur secara total, getaran tubuhnya tanpa makna, sunyi perih pelukan itu terasa.

Udara kegelapan semakin mendirikan bulu si mata berkaca dan pria tadi, tanpa pikir panjang, si pria tadi megajaknya masuk ke sebuah bentuk berbeton yang di bagian atasnya terdapat penghalang rintik hujan dan terik sinar matahari di kala siang hari cerah.

Sesampainya di dalam, si pria tadi mempersilakan si mata berkaca untuk duduk di susunan spons bertumpuk yang empuk, sejenak si pria tadi meninggalkan si mata berkaca, sesaat kemudaian si pria datang yang di tanganya mengenggam dua cangkir minuman bening hangat berwarna sedikit galap dengan sisa ampas yang samar hampir tidak kelihatan.
Tangan kanan si pria mengulurkan minuman hangat nan bening itu, lalu menyuruh si kaca beraca untuk meneguknya, sembari menungu si mata berkaca untuk menceritakan apa yang terjadi.
Masih rintik-rintik malam itu, si mata berkaca akhirnya menceritakan nasib yang dicobainya. Tadi, sore sebelum gelap datang si mata berkaca mendapat berita bahwa pria yang dipilihnya serta di kasihinya membuntingi gadis lain, dan harus menikahi gadis bunting itu, sambil menetaskan air mata si mata berkaca dengan terseduh-seduh melanjutkan ceritanya. Si priapun tahu, jika curahan hati sedang terpencar dari lidah, siapaun hanya boleh diam.

Memcoba niat menyenangkan si mata berkaca, si pria itu berkata

”hei sadarlah, di dunai ini masih berjuta-juta orang yang menyayangi kamu, lantaran buat apa bersedih hanya karena kehilangan satu orang, sangat percuma jika waktumu dihabiskan hanya untuk menangisi mantan pacarmu itu. Toh, masih banyak kisah sedih yang menimpa orang lain, dan mereka masih bisa bangkit dan tersenyum kembali”

dengan tangisan dan ucapan yang tertatih-tatih, si mata berkaca memotong perkataan si pria lalu berkata saya juga dihamili etc

“si mata berkaca” ini adalah cerpen hancur pertama saya yang saya publish di indaam.com. jadi wajar jika sobat menggapnya sampah dan ngga layak baca :( .

sebenarnya masih ada beberapa cerpen rusak di facebook saya dan di laptop yang ngga layak publish.

shared to : facebook | twitter

tentang penulis

indamindam

Indam, seorang web designer, wordpress theme development, -
blogger dan penulis yang ingin terus belajar! read more about indam ⇉


Indam on | facebook | twitter

Berlangganan via FeedBurner

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>